Ahmad Faozi, S.Psi., M.Pd., M.Pd., Gr. lahir di Banyumas, Jawa Tengah, pada 9 Agustus 1993. Ia dikenal sebagai pendidik, akademisi, penulis, pengelola lembaga pendidikan, dan aktivis organisasi profesi guru. Perjalanan hidup dan pendidikannya tidak dapat dilepaskan dari tradisi pesantren yang menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter, cara berpikir, sekaligus orientasi pengabdiannya. Baginya, pendidikan bukan sekadar ruang untuk memperoleh pengetahuan, melainkan jalan untuk membangun karakter, mengembangkan potensi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Tumbuh dalam Tradisi Pesantren
Perjalanan pendidikan Ahmad Faozi dimulai dari MI Al Islam Bogangin, Banyumas. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di lingkungan pesantren, antara lain di MTs dan Pondok Pesantren Al Anwar Bogangin serta MA Pondok Pesantren Nahdlatut Talamidz Jombor, Tambak, Banyumas. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia melanjutkan perjalanan nyantri di Yogyakarta, termasuk di Pondok Pesantren Al Falahiyyah Mlangi. Lingkungan pesantren tersebut menjadi ruang penting bagi pembentukan tradisi keilmuan dan pengabdiannya.
Memadukan Psikologi, Manajemen Pendidikan, dan Pendidikan Islam
Ketertarikannya pada dunia pendidikan kemudian membawanya menempuh pendidikan tinggi. Ia menyelesaikan S1 Psikologi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kajian psikologi memberinya fondasi dalam memahami peserta didik, proses belajar, perkembangan potensi, motivasi, dan dinamika pendidikan.
Tidak berhenti pada satu bidang, Ahmad Faozi kemudian menyelesaikan S2 Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan S2 Pendidikan Islam di Universitas Islam Indonesia (UII). Ia juga menyelesaikan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Bimbingan dan Konseling di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Perjalanan akademik tersebut mempertemukan perspektif psikologi, manajemen pendidikan, pendidikan Islam, dan praktik pendidikan secara langsung.
Mengawali Pengabdian dari Madrasah
Kiprah Ahmad Faozi dalam pendidikan formal sangat erat dengan MTs Nur Iman Mlangi. Sejak masa awal pendirian madrasah tersebut, ia terlibat dalam pengembangan operasional dan tata kelola lembaga. Ia kemudian menjalankan berbagai amanah, termasuk sebagai Kepala Tata Usaha dan Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum.
Pengalaman tersebut membuatnya tidak hanya memahami pendidikan dari sisi teori dan akademik, tetapi juga dari pengalaman langsung mengelola lembaga, menyusun program, mengembangkan kurikulum, mendampingi guru, dan berinteraksi dengan peserta didik. Madrasah berbasis pesantren menjadi laboratorium pengabdian yang mempertemukan gagasan pendidikan dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Menjadi Kepala Sekolah dan Kembali Mengabdi di Madrasah
Pengalaman kepemimpinannya kemudian berkembang ketika ia dipercaya menjadi Kepala SMP Daarul ‘Ilmi Boarding School Sleman. Di lembaga tersebut ia mendapatkan pengalaman mengelola sekolah berbasis boarding dan mengembangkan pendidikan yang memadukan pembelajaran formal dengan pendidikan karakter dan kepesantrenan.
Setelah menyelesaikan masa pengabdiannya di SMP Daarul ‘Ilmi Boarding School, Ahmad Faozi kembali ke lingkungan MTs Nur Iman Mlangi. Saat ini ia dipercaya sebagai Kepala MTs Nur Iman Mlangi, Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia membawa pengalaman akademik dan kepemimpinan tersebut untuk terus mengembangkan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang berakar pada tradisi pesantren sekaligus terbuka terhadap inovasi pendidikan.
Mengabdi melalui Organisasi Profesi Guru
Selain aktif di lembaga pendidikan, Ahmad Faozi juga memiliki perjalanan panjang dalam organisasi. Sejak masa pelajar dan mahasiswa, ia aktif dalam lingkungan IPNU dan KMNU, termasuk dalam aktivitas media, penerbitan, dan pengembangan organisasi.
Di lingkungan Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU), ia sebelumnya dipercaya sebagai Wakil Sekretaris PW PERGUNU DIY. Pada masa khidmat 2026–2031, ia mendapatkan amanah sebagai Sekretaris PW PERGUNU DIY. Melalui organisasi tersebut, ia terlibat dalam berbagai aktivitas pengembangan profesionalisme guru, pendidikan pesantren, literasi, dan pemberdayaan guru Nahdliyin.
Menulis sebagai Bagian dari Khidmah
Bagi Ahmad Faozi, menulis merupakan bagian dari proses belajar sekaligus bentuk pengabdian. Ia aktif menulis artikel, karya ilmiah, materi pendidikan, serta buku yang berkaitan dengan pendidikan Islam, pesantren, manajemen pendidikan, kepemimpinan, dan pengembangan lembaga pendidikan.
Salah satu karya bukunya adalah Arah Pesantren: Embrio Pendidikan untuk Generasi Bangsa, yang ditulis bersama Dhika Tabrozi dan diterbitkan oleh Satu Spasi pada 2025. Buku tersebut menjadi salah satu bentuk refleksi terhadap posisi pesantren dalam perjalanan pendidikan dan pembentukan generasi bangsa.
Selain buku, ia juga menghasilkan karya ilmiah yang berangkat dari persoalan pendidikan yang ditemuinya secara langsung. Penelitiannya antara lain berkaitan dengan self-regulated learning, pengembangan minat dan bakat peserta didik, manajemen pendidikan, kepemimpinan pendidikan, dan inovasi kurikulum.
Pendidikan sebagai Ruang Riset dan Transformasi
Pengalaman sebagai santri, guru, pengelola madrasah, kepala sekolah, akademisi, dan pengurus organisasi profesi membentuk perhatian Ahmad Faozi terhadap pentingnya pendidikan berbasis data dan riset. Ia melihat madrasah dan pesantren memiliki kekayaan tradisi yang kuat, tetapi tetap perlu dikembangkan melalui budaya akademik, inovasi pembelajaran, teknologi, penelitian, dan penguatan kapasitas guru.
Karena itu, ia terus mengembangkan minat pada penelitian mengenai kepemimpinan pendidikan, transformasi madrasah, pendidikan pesantren, pengembangan profesionalisme guru, minat dan bakat peserta didik, serta inovasi pembelajaran.
Belajar, Berkarya, dan Mengabdi
Perjalanan Ahmad Faozi memperlihatkan satu garis yang menghubungkan pesantren, pendidikan, organisasi, penelitian, dan kepenulisan. Dari lingkungan pesantren ia belajar tentang tradisi keilmuan dan pengabdian; dari perguruan tinggi ia memperoleh kerangka akademik; dari madrasah ia mendapatkan pengalaman praksis; sedangkan organisasi menjadi ruang untuk memperluas pengabdian kepada guru dan masyarakat.
Bagi Ahmad Faozi, jabatan bukanlah tujuan akhir, melainkan amanah untuk berkhidmah. Ia memandang bahwa belajar, berkarya, memimpin, menulis, dan mengembangkan lembaga pendidikan merupakan bagian dari perjalanan panjang untuk memberikan manfaat.
Belajar, berkarya, dan mengabdi—tiga hal yang menjadi benang merah perjalanan Ahmad Faozi dalam pendidikan.